Sabtu, 31 Oktober 2015

MAKALAH PENGELOLAAN PEMBELAJARAN : Pengertian Desain Pengajaran dan Pola Pengajaran Serta Komponen Desain Pengajaran



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN DESAIN PENGAJARAN
1.    Pengertian Desain
Desain adalah sebuah istilah yang diambil dari kata "design" (bahasa inggris) yang berarti perencanaan atau rancangan. Ada pula yang mengartikan dengan "persiapan".
Didalam ilmu manajemen pendidikan atau ilmu administrasi pendidikan, perencanaan disebut dengan istilah planning yaitu persiapan menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu.[1] Herbert Simon, mengartikan desain sebagai proses pemecahan masalah. Tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia.
Dengan demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan. Melalui suatu desain orang bisa melakukan langkah-langkah  yang sistematis untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Dengan demikian suatu desain pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespons kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas rancangan ( desain ) yang disusun.[2]
Dengan demikian desain atau perencanaan adalah suatu pemikiran atau persiapan untuk melaksanakan suatu tugas/pekerjaan atau untuk mengambil suatu keputusan terhadap apa yang kan dilaksanakan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu sebagai yang telah ditetapkan dengan melalui prosedur atau langkah-langkah yang sistematik dan memperhatikan prinsip-prinsip pelaksanaan tugas/pekerjaan tersebut.
Dengan  demikian,  suatu  desain  muncul  karena  kebutuhan  manusia  untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi.

2.   Pengertian Pengajaran
       Intruksional berasal dari kata intruction yang berarti pengajaran, pelajaran, atau bahkan perintah/intruksi.[3] Menurut Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH intruksional berarti memberi pengetahuan/informasi khusus dengan maksud melatih berbagai bidang pengetahuan, dalam bidang pendidkan intruksional berarti pengajaran/pelajaran.[4]
       Dalam Association for Education Communication and Technology Corey (1997) mengatakan; bahwa instruction itu sebagai sub – sub atau bagian dari pendidikan, yang merupakan suatu proses dimana lingkungan seseorang dengan sengaja dikelola agar memungkinkan orang tersebut dapat belajar melakukan hak tertentu dalam kondisi tertentu atau memberikan respon terhadap situasi tertentu pula.
       Titik perhatian dalam instruction adalah bagaimana mengelola lingkungan agar terjadi tindak belajar pada seseorang (sejumlah orang) secara efektif dan efisien. Karena itulah, padanan kata instruction yang lebih tepat adalah pembelajaran. Fungsi pembelajaran itu bukan saja fungsi guru/dosen/instruktur melainkan juga fungsi belajar lainnya.
       Pengajaran merupakan totalitas aktivitas belajar-mengajar yang di awali dengan perencanaan dan diakhiri dengan evaluasi.[5]

3.      Pengertian Desain Pengajaran
       Desain pengajaran adalah suatu pemikiran atau persiapan untuk melaksanakan tugas mengajar/aktivitas pengajaran dengan menerapkan prinip – prinsip pengajaran serta melalui langkah – langkah pengajaran; perencanaan itu sendiri, pelaksanaan dan penilaian, dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditentukan. Ada pula yang memberikan batasan pengertian yang berbeda, bahwa desain pengajaran sebagai pemikiran tentang penerapan prinsip – prinsip umum pengajaran dalam rangka pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu interaksi pengajaran (interaksi guru-peserta didik) tertentu yang khusus, baik yang berlangsung di dalam kelas maupun diluar kelas.
       Nurhida Amir Das dan Rocdhito berpendapat, bahwa membuat desain intruksional (pengajaran) merupakan suatu proses analisis dari kebutuhan dan tujuan belajar, pengembangan materi, kegiatan belajar mengajar, dan kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik, mencobakan merevisi semua kegiatan mengajar dan penilaian peserta didik.
       Desain pengajaran merupakan perencanaan yang sistematik dalam suatu pengajaran yang akan dimanifestasikan bersama-sama (kepada) peserta didik.[6]
       Desain instruksional (pengajaran) ini dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan, yaitu :
1.      Apa yang harus dipelajari (tujuan pengajaran).
2.      Apa/Bagaimana prosedur, dan sumber – sumber belajar apa yang tepat untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan (kegiatan dan sumber belajar).
3.      Bagaimana kita tahu bahwa hasil belajar yang dihasilkan telah tercapai (evaluasi).[7]
      Dengan demikian, guru adalah sebagai desainer/perancang pengajaran sekaligus sebagai pengelola/pelaksana pengajaran. Maka, untuk dapat melakukan tugasnya, baik sebagai desainer maupun sebagai pengelola/pelaksana pengajaran, guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menyusun desain pengajaran.[8]

B.     POLA DESAIN PENGAJARAN
Perkembangan ilmu pengetahuan mempengaruhi pola pembelajaran. Timbulnya berbagai pola tersebut berkecenderungan membakukan input dalam system pembelajaran. Ada beberapa pola pengajaran yang telah teridentifikasi menurut Morris :
1.        Pola Pengajaran Tradisional
Dalam pola pengajaran tradisional ini, pengajar memegang peran utama dalam menentukan isi dan metode pengajaran, termasuk dalam menilai kemajuan belajar siswa. Guru merupakan satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Dalam pola interaksi edukatif ini, guru kelas mendominasi kegiatan belajar mengajar.
Pola pengajaran seperti ini belum atau tidak memberikan peluang pada penggunaan teknologi dalam pengajaran. Buku-buku, papan tulis, media pengajaran, perpustakaan belum berperan dalam proses belajar mengajar. Pola pengajaran seperti tidak memberikan ruang bagi pengembangan teknologi dalam pengajaran.
Pola pengajaran tradidional dalam pengajaran bahasa asing akan lebih bertumpu pada keterampilan menulis. Keterampilan menyimak dan berbicara hanya kadang-kadang. Pola pengajaran tradisional dapat dilihat sebagai berikut :










Text Box: Penetapan isi
Dan Metode

Text Box: Tujuan

Text Box: Guru




Text Box: Siswa



 


                                



2.        Pola Pengajaran Dibantu Media
Perkembangan ilmu pengetahuan telah mempengaruhi pola pengajaran, sehingga timbul kecenderungan membakukan masukan atau standarisasi input ke dalam system pengajaran. Sementara itu, perkembangan teknologi, khususnya perlengkapan media dan fasilitas pengajaran juga mengalami kemajuan.
Kecenderungan pembakuan ini selain dikarenakan alasan ekonomis, namun juga memberikan keuntungan lain, yaitu memudahkan adanya perbaikan kontrol dalam proses pengajaran. Standarisasi ini berlaku untuk pengadaan buku-buku sekolah, desain gedung dan fasilitas sekolah, bentuk papan tulis, media intruksional, perpustakaan dan laboratorium.
Dampak munculnya input dalam pengajaran ini, maka pola pengajaran mempunyai komponen-komponen baru berupa peralatan yang dipergunakan oleh guru sebagai sarana untuk membantu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Alat bantu pengajaran tersebut kemudian dikenal sebagai media pengajaran.
Munculnya media pengajaran merupakan sumber belajar lain selain guru di dalam pola pengajaran model ini. Dalam pola ini, guru masih tetap memegang peranan menentukan dalam mengontrol kegiatan belajar mengajar di kelas, namun tidak mutlak 100 % karena sudah didukung oleh sumber belajar lain, yaitu media.
Guru juga dituntut untuk mampu mengoperasikan media pengajaran yang ada. Baik yang tinggal memenfaatkan ataupun media yang harus dibuat. Adapun pola pengajaran yang dibantu dengan media adalah sebagai berikut :










Text Box: Penetapan isi
Dan Metode



Text Box: Guru dengan Media




Text Box: Siswa

Text Box: Tujuan


 


                                



3.      Pola Pengajaran Yang Merupakan Tanggung Jawab Bersama Antara Guru Dan Media
Implikasi yang ditimbulkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan umat manusia dari generasi ke generasi juga menuntut system pendidikan dan kepelatihan yang canggih. Segala macam pengetahuan dan pesan, baik yang verbal maupun nonverbal, perlu ditransformasikan dalam system baru. Oleh sebab itu, maka kemudian media bukan saja merupakan hasil pengetahuan manusia, namun juga merupakan sarana mengkomunikasikan pengetahuan dan pesan tersebut. Terlebih lagi, bentuk transformasi tersebut juga dapat sebagai sarana mengembangkan keterampilan khusus dengan menggunakan teknik-teknik mutakir.
Standarisasi pada input yang telah muncul pada pola pengajaran yang dibantu dengan media, pada perkembangannya ternyata belum dapat menjamin hasil belajar yang optimal. Oleh sebab itu diperlukan standarisasi lain dalam proses belajar mengajar. Munculnya kecenderungan system belajar mandiri. Sifat kemandirian tersebut memerlukan sumber belajar lain selain guru yang dirancang khusus agar dapt dipergunakan dalam proses belajar secara langsung. Sumber belajar tersebut berbentuk media yang disusun oleh sekelompok ahli media. Jadi pola pengajaran yang terbentuk ini adalah pola yang menghadirkan guru disatu sisi, dan guru dengan media di sisi lain, dan bersama-sama berinteraksi dengan siswa. Dalam hal ini, kehadiran guru berfungsi untuk melakukan control terhadap disiplin dan minat belajar siswa. Sumber belajar yang berbentuk media akan mengontrol penyajian materi pelajaran.
Dalam pengajaran bahasa asing, guru akan tetap muncul dan hadir di kelas, namun media juga turut dikembangkan dengan detil secara bersama-sama. Terlebih lagi dalam pengajaran keterampilan berbahasa, yang menuntut penguasaan reseptif maupun produktif lisan dan tulis. Guru dan ahli media akan bersama-sama bertanggung jawab dalam proses pengajaran seperti yang tampak pada pola beriku ini :









Text Box: Tujuan

 



                                
Text Box:                         Guru Media                                                                                            
4.      Pola Pengajaran Dengan Media
Pola pengajaran keempat ini muncul sebagai jawaban akan semakin meningkatnya kebutuhan dalam kegiatan belajar mengajar, baik dari segi jumlah maupun mutu. Munculnya tuntutan profesionalisme tenaga pengajar dalam rangka standarisasi mutu, memberikan dampak berkurangnya tenaga pengajar yang berkualitas tinggi. Jadi jumlah tenaga pengajar yang terbatas juga turut memberi andil akan hadirnya pola pengajaran ini. Sementara penambahan jumlah tenaga pengajar professional tidak dapat dilakukan secara kilat. Maka muncul upaya untuk menemukan dan mengembangkan media pengajaran.
Lalu dimana letak tugas pengajar pada pola ini? Tenaga pengajar yang professional dapat diberi tugas untuk mempersiapkan bahan pengajaran secara sistematis dan terprogram dalam bentuk modul atau paket belajar. Keadaan siswa yang telah cenderung belajar dengan system mandiri, akan memudahkan mereka dalam berinteraksi langsung dengan media pengajaran yang telah dipersiapkan oleh para ahli media dan guru.
Pola ini tidak mewajibkan bahkan meniadakan kehadiran guru. Pengajaran berlangsung dengan media pengajaran, misalnya dalam proses belajar mengajar dengan modul, mesin pengajaran, dan pengajaran berprogram dalam belajar mandiri. Kelemahan dari pola ini adalah bahwa dalam kenyataannya, media tidak dapat mendidik siswa.
Dengan pola pengajaran ini, kehadiran guru dapat digantikan oleh media yang diciptakannya. Media tersebut adalah guru=media dengan bagan yang dapat dilihat sebagai berikut [9] :










Text Box: Penetapan isi
Dan Metode



Text Box: Guru Media




Text Box: Siswa

Text Box: Tujuan


 


                                


Dari keempat pola pengajaran di atas, satu sama lain terdapat kelemahan. Setiap pola pengajaran tertentu hanya cocok untuk materi dan kondisi tertentu. Dan belum ditemukan pola pengajaran yang terbaik dalam pembelajaran , akan tetapi pola pengajaran tertentu baik untuk pengajaran tertentu pula. Pola-pola tersebut saling melengkapi dan disesuaikan dengan kondisi / karakteristik pembelajaran, serta kegiatan pengajaran  merupakan komponen yang terpadu.

C.    KOMPONEN DESAIN PENGAJARAN
Dalam menyusun suatu desain pengajaran terdapat banyak komponen pengajaran yang harus diperhatikan oleh seorang guru dalam tugasnya sebagai desainer pengajaran.
     Dalam konteks ini dipakai istilah komponen, oleh sebab pengajaran itu menggambarkan suatu sistem, demikian pun pula desainer pengajaran juga menunjukkan suatu gambaran sistem.  Menyusun desain pengajaran berarti memikirkan, merancang, atau membuat ancangan dan mengembangkan sistem itu sendiri.[10]
Pandangan mengenai konsep pembelajaran terus menerus mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan perkembangan IPTEK. Pembelajaran sama artinya dengan kegiatan mengajar. Kegiatan mengajar dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi : kurikulum, tujuan, guru, siswa, materi, metode, media dan evaluasi.[11] Pelaksanaan pembelajaran adalah operasionalisasi dari perencanaan pembelajaran, sehingga tidak lepas dari perencanaan pengajaran / pembelajaran yang sudah dibuat. Oleh karenanya dalam pelaksanaannya akan sangat tergantung pada bagaimana perencanaan pengajaran sebagai operasionalisasi dari sebuah kurikulum.
Jadi dapat disimpulkan bahwa komponen pembelajaran adalah kumpulan dari beberapa item yang saling berhubungan satu sama lain yang merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar.
·         Macam Komponen Pembelajaran
Di dalam pembelajaran, terdapat komponen-komponen yang berkaitan dengan proses pembelajaran, yaitu :
1.        Kurikulum
Secara etimologis, kurikulum ( curriculum ) berasal dari bahasa Yunani, curir yang artinya “ pelari ” dan curere yang berarti “ tempat berpacu ”, yaitu suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish. Secara terminologis, istilah kurikulum mengandung arti sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai suatu tingkatan atau ijazah. Pengertian kurikulum secara luas tidak hanya berupa mata pelajaran atau bidang studi dan kegiatan-kegiatan belajar siswa saja, tetapi juga segala sesuatu yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Misalnya fasilitas kampus, lingkungan yang aman, suasana keakraban dalam proses belajar mengajar, media dan sumber-sumber belajar yang memadai.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat.[12]
2.        Tujuan
Setiap rumusan tujuan pembelajaran selalu dikembangkan berdasarkan kompetesi atau kinerja yang harus dimiliki oleh peserta didik jika ia selesai belajar. Seandainya tujuan pembelajaran atau kompetensi dinilai sebagai sesuatu yang rumit, maka tujuan pembelajaran tersebut dirinci menjadi subkompetensi yang dapat mudah dicapai. Dilain pihak desain pembelajaran memadukan kebutuhan peserta didik dengan kompetensi yang harus dikuasai dengan persyaratan tertentu dalam kondisi yang sudah ditetapkan.[13]
3.        Guru
Kata Guru berasal dari bahasa Sansekerta guru ” yang juga berarti guru, tetapi arti harfiahnya adalah “ berat ” yaitu seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.[14]
Di dalam masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju, guru memegang peranan penting. Guru merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat. Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar ( penyampai ilmu pengetahuan ), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4.        Siswa
Siswa atau Murid biasanya digunakan untuk seseorang yang mengikuti suatu program pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya, di bawah bimbingan seorang atau beberapa guru. Dalam konteks keagamaan murid digunakan sebagai sebutan bagi seseorang yang mengikuti bimbingan seorang tokoh bijaksana. Meskipun demikian, siswa jangan selalu dianggap sebagai objek belajar yang tidak tahu apa-apa. Ia memiliki latar belakang, minat, dan kebutuhan serta kemampuan yang berbeda. Bagi siswa, sebagai dampak pengiring ( nurturent effect ) berupa terapan pengetahuan dan atau kemampuan di bidang lain sebagai suatu transfer belajar yang akan membantu perkembangan mereka mencapai keutuhan dan kemandirian.[15]


5.        Metode
Metode pembelajaran adalah cara yang dapat dilakukan untuk membantu proses belajar-mengajar agar berjalan dengan baik, metode-metode tersebut antara lain :
a.    Metode Ceramah, yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif.
b.    Metode Tanya Jawab, adalah suatu metode dimana guru menggunakan atau memberi pertanyaan kepada murid dan murid menjawab, atau sebaliknya murid bertanya pada guru dan guru menjawab pertanyaan murid itu.
c.    Metode Diskusi, dapat diartikan sebagai siasat “ penyampaian ” bahan ajar yang melibatkan peserta didik untuk membicarakan dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis.
d.   Metode Demonstrasi, adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
e.    Metode Eksperimen, adalah metode atau cara di mana guru dan murid bersama-sama mengerjakan sesuatu latihan atau percobaan untuk mengetahui pengaruh atau akibat dari sesuatu aksi.
6.        Materi
Materi juga merupakan salah satu faktor penentu keterlibatan siswa. Adapun karakteristik dari materi yang bagus menurut Hutchinson dan Waters adalah :
a.    Adanya teks yang menarik.
b.    Adanya kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan serta meliputi kemampuan berpikir siswa.
c.    Memberi kesempatan siswa untuk menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah mereka miliki.
d.   Materi yang dikuasai baik oleh siswa maupun guru.
Dalam kegiatan belajar, materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan komponen-komponen yang lain, terutama komponen anak didik yang merupakan sentral. Pemilihan materi harus benar-benar dapat memberikan kecakapan dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
7.        Alat Pembelajaran ( Media )
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari “ medium ” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Jadi media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media pembelajaran adalah perangkat lunak ( soft ware ) atau perangkat keras ( hard ware ) yang berfungsi sebagai alat belajar atau alat bantu belajar.
8.        Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “ Evaluation ”. Menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari suatu hal. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa, guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.[16]


[1] Rohani, Ahmad, Pengelolaan Pengajaran, PT.Rineka Cipta, Jakarta: 2004.  hal 67
[2] Sanjaya, Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Kencana Prenada Media Group, Jakarta:2008. hal 64-65
[3] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2004, hal  68
[4] Dailami Firdaus, pengertian, strategi, metode intruksinal.
[5] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2004, hal  68

[6] Ibid, hal 69-70
[7] Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta. PT.Rineka Cipta :2008. hal 140
[8] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran,(cetakan kedua) hal 69
                                       

[9] Sudjana, Nana & Rivai, Ahmad. Teknologi Pengajaran. --Sinar Baru Algensindo
[10] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran,(cetakan kedua) hal  90-91
[11] Uno, Hamzah, Perencanaan Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara 2006.
[12] Uno, Hamzah, Perencanaan Pembelajaran.
[13] Uno, Hamzah, Perencanaan Pembelajaran.
[14] Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai Pustaka, 1999 ) hal. 218
[15] Uno, Hamzah, Perencanaan Pembelajaran.
[16] Uno, Hamzah, Perencanaan Pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar