BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN TES
Berikut arti
dari beberapa istilah-istilah yang berhubungan dengan tes :
1.
Tes, merupakan
prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana
dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
2.
Testing, merupakan
saat pada waktu tes itu dilaksanakan. Dapat juga dikatakan testing adalah saat
pengambilan tes.
3.
Testee, merupakan
responden yang sedang mengerjakan tes.
4.
Tester, adalah orang
yang melaksanakan pengambilan tes terhadap responden. Dengan kata lain, tester
adalah subjek evaluasi (tetapi adakalanya hanya orang yang ditunjuk oleh subjek
evaluasi untuk melaksanakan tugasnya ). Sedangkan tugas tester antara lain
adalah :
a)
Mempersiapkan ruangan dan
perlengkapan yang diperlukan
b)
Membagikan lembaran tes dan alat-alat
lain untuk mengerjakan.
c)
Menerangkan cara mengerjakan tes.
d)
Mengawasi responden mengerjakan tes.
e)
Memberikan tanda-tanda waktu.
f)
Mengumpulkan pekerjaan responden.
g)
Mengisi berita acara atau laporan
yang diperlukan.
Sedangkan tes
itu sendiri berasal dari bahasa Latin “testum” yang berarti alat untuk
mengukur tanah. Dalam bahasa Prancis kuno kata tes berarti ukuran yang
dipergunakan untuk membedakan antara emas dengan perak serta logam lainnya.
Sedangkan Sumadi Suryabrata, mengartikan tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang
harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dikerjakan, yang
mendasarkan harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau
melakukan perintah-perintah itu, penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara
membandingkan dengan standar atau testee lainnya.
Dari kedua
pengertian di atas dapat diambil pengertian, tes adalah alat pengukur berupa
pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang ditujukan kepada testee untuk
mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu. Atas dasar respon tersebut
ditentukan tinggi rendahnya skor dalam bentuk kuantitatif selanjutnya
dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan untuk ditarik kesimpulan yang
bersifat kuantitatif.
Dalam kaitannya
dengankegiatan belajar mengajar, maka yang dimaksud dengan tes hasil belajar
adalah tes yangdipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah
diberikan oleh guru kepada murid-muridnya, atau dosen kepada mahasiswanya dalam
jangka waktu tertentu. Atau tes hasil belajar adalah cara (yang dapat
dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalamrangka menilai hasil
belajar anak didik, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas (baik
yang berupa pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintah) yang harus dikerjakan
anak didik, sehingga menghasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau
prestasi belajar yang dicapai anak didik, nilai mana dapat dibandingkan dengan
nilai-nilai yang dicapai oleh anak-anak didik lainnya, atau dibandingkan dengan
nilai standart tertentu.
. B. ALAT-ALAT EVALUASI PENDIDIKAN
Alat-alat evaluasi pendidikan yang juga dikenal lain yaitu “ teknik
evaluasi pendidikan “ adalah segala macam alat atau aktivitas yang dapat
dipergunakan dalam rangka melalukan kegiatan dalam lapangan pendidikan.
Secara garis besar, alat-alat atau teknik evaluasi pendidikan itu dapat
dibedakan ke dalam dua golongan, yaitu :
1.
Teknik tes
2.
Teknik non tes
Dalam kegiatan mengukur sebagai suatu
tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam lapangan pendidikan, pada
umumnya tertuang dalam bentuk tes. Dalam kaitan ini teknik tes adalah merupakan
suatu teknik yang dipergunakan dalam evaluasi pendidikan dengan “ tes “ sebagai
material alat ukurnya untuk menilai ( mengevaluasi ) bidang tertentu dalam
pendidikan.
Tes apabila ditinjaulebih jauh, maka
akan dapat dilihat dari berbagai segi :
1.
Tes ditinjau dari berbagai fungsinya, dapat dibagi atas :
a. Speed test atau tes
kecepatan, yaitu suatu tes untuk mengetahui kecepatan seseorang mengerjakan
suatu tugas dengan kelompok soal-soal yang relatif kesulitannya dianggap sama.
b. Power testatau tes batas
kesanggupan, yaitu suatu tes untuk mengetahui sejauhmana kemampuan peserta
didik yang hendak dites.
c. General survey
test,yaitu dilakukan untuk mengetahui tingkat pelajaran
yang dikuasai seseorang yang dibandingkan dengan kecepatan orang lain yang
dianggap sebaya dengan kepandaiannya.
d.
Diagnostic testatau tes
pengukuran, yaitu suatu tes yang dilakukan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan
yang dialami oleh peserta didik atau suatu unit pelajaran, sehingga dapat
diketahui hal-hal yang perlu mendapat perbaikan.
2.
Tes ditinjau dari segi banyaknya
orang yang dites. Tes ini terdiri atas :
a.
Test individual, yaitu tes yang
diberikan kepada peserta didik untuk dapat mengetahui faktor-faktor
individualnya.
b.
Test kelompok,yaitu tes yang
diberikan oleh seorang guru atau beberapa orang guru kepada sekelompok peserta
didik.
3.
Tes ditinjau dari segi cara
penyampaian bahan, dapat dibagi atas :
a.
Test bahasa,yaitu tes untuk
menguji kemampuan berbahasa. Ini dapat ditempuh dengan lisan atau tulisan.
b.
Test perbuatan atau test
tingkah laku. Ini dapat dilakukan dengan menyuruh mempraktekkan,
seperti praktek wudhu, salat, dan sebagainya.
4.
Tes ditinjau dari segi proses
pembuatan tes, terdiri atas :
a.
Standardiset test,yaitu tes yang
disusun oleh suatu lembaga, yang orang-orangnya terdiri atas orang-orang yang
ahli pada bidang mata pelajaran yang hendak diteskan itu.
b.
Test buatan guru,yaitu tes yang
dibuat oleh seorang guru sendiri dalam mata pelajaran tertentu.
5.
Tes ditinjau dari segi awal dan
akhir pelaksanaan program pengajaran, yaitu :
a.
Test awal atau pre test,yaitu tes yang
dilakukan sebelum pelajaran inti diberikan untuk mengetahui sejauhmana peserta
didik dapat menguasai pelajaran yang akan diberikan.
b.
Post test,yaitu tes yang
diberikan pada akhir pelajaran. Tes ini disebut juga test formatif, yaitu test
untuk mengukur pencapaian TIK (Tujuan Instruksional Khusus) yang merupakan
umpan balik untuk mencari motivasi dari suatu masalah terhadap guru untuk
mempelajari kelemahan-kelemahan dalam pengujian dan sebagainya.
c.
Sumatif test,yaitu tes yang dilakukan
pada tiap akhir caturwulan untuk mengetahui penguasaan peserta didik terhadap
materi yang telah disampaikan dalam setiap caturwulan.
6.
Tes ditinjau dari segi tujuan khusus
dilaksanakannya. Tes ini terdiri dari :
a.
Achievement test atau tes
penguasaan, yaitu test yang bertujuan meneliti tingkat kemajuan yang dicapai
peserta didik dalam suatu pelajaran.
b.
Intelligence testatau test
kecerdasan, yaitu test yang bertujuan meneliti atau mengetahui tingkat
kecerdasan peserta didik.
c.
Test minat,yaitu test yang
dilaksanakan dengan tujuan untuk meneliti kecenderungan atau minat peserta
didik.
d.
Test kepribadian,yaitu suatu
test yag dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sifat pribadi peserta
didik.
7.
Tes ditinjau dari segi strukturnya,
yaitu :
a.
Essay test atau tes menerangkan,
yaitu suatu bentuk tes yang meminta jawaban dengan jalan menerangkan sehingga
memerlukan jawaban agak panjang. Tes ini terbagi atas :
1)
Short answer test, yaitu tes
menjawab pendek. Biasanya pertanyaan diakhiri dengan akhiran “kah”.
2)
Completion test, yaitu tes
melengkapi. Biasanya dibuat dengan kalimat yang tidak lengkap, hanya dengan
titik-titik (…….).
b.
Tes pilihan, terdiri dari :
1)
True False test,yaitu tes yang
terdiri atas pernyataan-pernyataan yang mengandung salah satu dari dua
kemungkinan benar atau salah.
2)
Multiple choice test atau tes
pilihan ganda. Peserta tes dituntut untuk memilih salah satu dari
pernyataan-pernyataan yang tersedia sebagai jawaban yang tepat.
3)
Matching testatau tes
menjodohkan. Peserta didik dituntut untuk menjodohkan pernyataan-pernyataan
yang paling ada hubungannya secara logis dan tepat.
4)
Rearrangment test atau tes
mengatur kembali. Tes ini merupakan pernyataan yang tidak teratur dan peserta
didik diharap menyusun dengan rapi dan benar.
1.
NON TEST
Teknik non test pada umumnya dilakukan dengan tanpa “
menguji “ peserta didik, dan memegang peranan yang penting dalam rangka
mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup ( affective
domain ) dan ranah keterampilan ( psychomotoric domain ). Teknik non
test dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a)
Skala Bertingkat
Skala bertingkat (rating scale), yaitu nilai yang
berbentuk angka. Perkataan Oppenheim:”Rating gives a numerical value to some
kind of judgment ”, sehingga suatu skala selalu disajikan dalam bentuk angka.
b)
Kuesioner
Kuesioner ( quesionary ), yaitu angket / sebuah
pertanyaan yang harus diisi oleh responden. Macam-macam kuesioner :
(1)
Ditinjau dari segi siapa yang
menjawab :
- Langsung :
dikirimkan dan langsung diisi oleh orang yang dimintai jawaban tentang dirinya.
- Tidak langsung
: dikirim dan diisi oleh orang lain ( bukan orang yang diminta secara langsung
), biasanya digunakan untuk mencari info tentang anak, tetangga, saudara dan
sebagainya.
(2)
Ditinjau dari segi cara menjawab :
- Tertutup :
disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga pengisi tinggal
memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
- Terbuka :
pengisi bebas mengemukakan pendapatnya, biasanya digunakan untuk meminta
pendapat seseorang.
c)
Daftar Check
Daftar cocok (check-list), yaitu pernyataan singkat dan responden
tinggal memberi tanda (v) pada jawaban yang ia pilih pada tempat yang telah
disediakan.
d)
Wawancara
Wawancara ( interview ), yaitu cara yang digunakan
untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak (
responden tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya ). Cara melakukan wawancara
:
(1)
Bebas, responden mempunyai kebebasan
untuk mengutarakan pendapat tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang dibuat
oleh penanya.
(2)
Terpimpin, penanya mengajukan
pertanyaan yang sudah disusun terlebih dahulu, penanya tinggal memberikan tanda
cocok di tempat yang sesuai dengan jawaban responden ( penanya dan responden
sama-sama terpimpin oleh pertanyaan yang disusun ).
e)
Pengamatan
Pengamatan ( observation ), yaitu cara yang digunakan
dengan mengadakan pengamatan secara teliti dan pencatatan yang sistematis.
Macam-macam observasi :
(1)
Partisipan, pengamat ikut serta
dalam kelompok yang sedang diamati. Pengamat harus benar-benar ikut serta agar
ia bisa menghayati dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang diamati.
(2)
Sistematik, faktor-faktor yang
diamati sudah didaftar secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya.
Pengamat berada di luar kelompok ( dilihat dari sisi sistematisnya dilakukan
oleh penanya ).
(3)
Eksperimental, pengamat tidak
berpartisipasi dalam kelompok. Pengamat dapat mengendalikan unsur-unsur penting
dalam situasi sehingga dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.
f)
Riwayat Hidup
Riwayat hidup, yaitu gambaran keadaan seseorang semasa
hidupnya. Dengan mempelajari riwayat hidup, penanya dapat mengambil kesimpulan
tentang kebiasaan dan kepribadian serta sikap responden.
2.
ACHIEVMENT TEST
Achievement testatau tes penguasaan, yaitu test yang
bertujuan meneliti tingkat kemajuan yang dicapai peserta didik dalam suatu
pelajaran. Achievment test terbagi menjadi 2, yaitu :
a)
Tes Esay
Essay testatau tes menerangkan, yaitu suatu
bentuk tes yang meminta jawaban dengan jalan menerangkan sehingga memerlukan
jawaban agak panjang. Tes ini terbagi atas :
(1) Short answer
test, yaitu tes menjawab pendek. Biasanya pertanyaan
diakhiri dengan akhiran “ kah ”.
(2) Completion
test, yaitu tes melengkapi. Biasanya dibuat dengan kalimat
yang tidak lengkap, hanya dengan titik-titik (…….).
b)
Tes Obyektif
Objective test atau tes
obyektif, yaitu tes yang penilaiannya tidak membutuhkan judgement dalam
penentuan nilai dan hanya ada 2 ketentuan yaitu salah dan benar. Tes obyektif
terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
(1)
True-False, yaitu tes
yang terdiri atas pernyataan-pernyataan yang mengandung salah satu dari dua
kemungkinan benar atau salah.
(2)
Multiple Choice atau tes
pilihan ganda. Peserta tes dituntut untuk memilih salah satu dari
pernyataan-pernyataan yang tersedia sebagai jawaban yang tepat.
(3)
Matching Test atau tes
menjodohkan. Peserta didik dituntut untuk menjodohkan pernyataan-pernyataan
yang paling ada hubungannya secara logis dan tepat.
(4)
Fill in, yaitu tes
melengkapi kalimat yang kurang lengkap. Tes ini juga bisa disebut dengan Completion
test.
C.
TEKNIK PEMERIKSAAN HASIL TES BELAJAR
Tes hasil belajar dapat diselenggarakan secara tertulis ( tes tertulis
), secara lisan ( tes lisan ) dan dengan
tes perbuatan. Adanya perbedaan pelaksanaan tes hasil belajar tersebut menuntut
adanya perbedaan dalam pemeriksaan hasil-hasilnya.
1.
Teknik Pemeriksaan Hasil Tes
Tertulis
Tes hasil belajar yang
diselenggarakan secara tertulis dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
tes hasil belajar ( tertulis ) bentuk uraian ( subjective test = essay test
) dan tes hasil belajar ( tertulis ) bentuk obyektif ( objective test ).
Karena kedua bentuk tes hasil belajar itu memiliki karakteristik yang
berbeda, sudah barang tentu teknik pemeriksaan hasil-hasilnya pun berbeda pula.
a)
Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Bentuk
Uraian
Dalam pelaksanaan pemeriksaan hasil
tes uraian ini ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu: (1) apakah
nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu akan didasarkan
pada standar mutlak atau: (2) apakah nantinya pengolahan dan penentuan nilai
hasil tes subyektif itu akan didasarkan pada standar relatif.
Apabila nantinya pengolahan dan
penentuan nilai hasil tes uraian itu akan didasarkan pada standar mutlak
(dimana penentuan nilai secara mutlak akan didasarkan pada prestasi individual),
maka prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut:
1)
Membaca setiap jawaban yang
diberikan oleh testee dan membandingkannya dengan pedoman yang sudah disiapkan.
2)
Atas dasar hasil perbandingan
tersebut, tester lalu memberikan skor untuk setiap butir soal dan menuliskannya
di bagian kiri dari jawaban testee tersebut.
3)
Menjumlahkan skor-skor yang telah
diberikan.
Adapun apabila
nantinya pengolahan dan penentuan nilai akan didasarkan pada standar relative (
di mana penentuan nilai akan didasarkan pada prestasi kelompok ), maka prosedur
pemeriksaannya adalah sebagai berikut :
1)
Memeriksa jawaban atas butir soal
nomor 1 yang diberikan oleh seluruh testee, sehingga diperoleh gambaran secara
umum mengenai keseluruhan jawaban yang ada.
2)
Memberikan skor terhadap jawaban
soal nomor 1 untuk seluruh testee.
3)
Mengulangi langkah-langkah tersebut
untuk soal tes kedua, ketiga, dan seterusnya.
4)
Setelah jawaban atas seluruh butir
soal yang diberikan oleh seluruh testee dapat diselesaikan, akhirnya
dilakukanlah penjumlahan skor (yang nantinya akan dijadikan bahan dalam
pengolahan dan penentuan nilai ).
b)
Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Bentuk
Obyektif
Memeriksa atau mengoreksi jawaban
atas soal tes objektif pada umumnya dilakukan dengan jalan menggunakan kunci
jawaban, ada beberapa macam kunci jawaban yang dapat dipergunakan untuk
mengoreksi jawaban soal tes objektif, yaitu sebagai berikut :
1)
Kunci Berdampingan ( strip keys ), terdiri dari
jawaban – jawaban yang benar yang ditulis dalam satu kolom yang lurus dari atas
kebawah, adapun cara menggunakannya adalah dengan meletakan kunci jawaban
tersebut berjajar dengan lembar jawaban yang akan diperiksa, lalu cocokkan,
apabila jawaban yang diberikan oleh teste benar maka diberi tanda ( + ) dan
apabila salah diberi tanda ( - ).
2)
Kunci System Carbon ( Carbon System
Key ), pada kunci jawaban system ini teste diminta
membubuhkan tanda silang ( X ) pada salah satu jawaban yang mereka anggap benar
kemudian kunci jawaban yang telah dibuat oleh teste tersebut diletakan diatas
lembar jawaban teste yang sudah ditumpangi karbon kemudian tester
memberikan lingkaran pada setiap jawaban yang benar sehingga ketika diangkat
maka, dapat diketahui apabila jawaban teste yang berada diluar lingkaran
berarti salah sedangkan yang berada didalam adalah benar.
3)
Kunci System Tusukan ( Panprick
System Key ), pada dasarnya kunci system tusukan adalah sama
dengan kunci system karbon. Letak perbedaannya ialah pada kunci sistem ini,
untuk jawaban yang benar diberi tusukan dengan paku atau alat penusuk lainnya
sementara lembar jawaban testee berada dibawahnya, sehingga tusukan tadi
menembus lembar jawaban yang ada dibawahnya. Jawaban yang benar akan tekena
tusukan dsedangkan yang salah tidak.
4)
Kunci Berjendela ( Window Key ), prosedur
kunci berjendela ini adalah sebagai berikut :
(a)
Ambilah blanko lembar jawaban yang
masih kosong.
(b)
Pilihan jawaban yang benar dilubangi
sehingga seolah – olah menyerupai jendela.
(c)
Lembar jawaban teste diletakan
dibawah kunci berjendela.
(d)
Melalui lubang tersebut kita dapat
membuat garis vertical dengan pencil warna sehingga jawaban yang terkena pencil
warna tersebut berarti benar dan sebaliknya.
2.
Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Lisan
Pemeriksaan yang dilaksanakan dalam
rangka menilai jawaban – jawaban testee pada tes hasil belajar secara lisan
pada umumnya bersifat subjektif, sebab dalam tes lisan itu tester tidak
berhadapan dengan lembar jawaban soal yang wujudnya adalah benda mati,
melainkan berhadapan dengan individu atau makhluk hidup yang masing – masing
mempunyai ciri dan karakteristik berbeda sehingga memungkinkan bagi tester
untuk bertindak kurang atau bahkan tidak objektif.
Dalam hal ini, pemeriksaan terhadap
jawaban testee hendaknya dikendalikan oleh pedoman yang pasti, misalnya sebagai
berikut :
a)
Kelengkapan Jawaban Yang Diberikan
Oleh Testee
Pernyataan tersebut mengandung makna
“ apakah jawaban yang diberikan oleh testee sudah memenuhi semua unsur yang
seharusnya ada dan sesuai dengan kunci jawanban yang telah disusun oleh tester.
b)
Kelancaran Testee Dalam Mengemukakan
Jawaban
Mencakup apakah dalam memberikan
jawaban lisan atas soal–soal yang diajukan kepada testee itu cukup lancar
sehingga mencerminkan tingkat pemahaman testee terhadap materi pertanyaan yang
diajukan kepadanya.
c)
Kebenaran Jawaban Yang Dikemukakan
Jawaban panjang yang dikemukakan
oleh testee secara lancar dihadapan tester, belum tentu merupakan jawaban yang
benar sehingga tester harus benar–benar memperhatikan jawaban testee tersebut,
apakah jawaban testee itu mengandung kadar kebenaran yang tinggi atau
sebaliknya.
d)
Kemampuan Testee Dalam
Mempertahankan Pendapatnya
Maksudnya, apakah jawaban yang
diberikan dengan penuh kenyakinan akan kebenarannya atau tidak. Jawaban yang
diberikan oleh testee secara ragu–ragu merupakan salah satu indikator bahwa
testee kurang menguasai materi yang diajukan kepadanya.
Demikian seterusnya, penguji dapat
menambahkan unsur lain yang dirasa perlu dijadikan bahan penilaian seperti :
perilaku, kesopanan, kedisiplinan dalam menghadapi penguji ( tester ).
3.
Teknik Pemeriksaan Hasil Tes
Perbuatan
Dalam tes perbuatan ini pemeriksaan
hasil-hasil tesnya dilakukan dengan menggunakan observasi ( pengamatan ).
Sasaran yang perlu diamati adalah tingkah laku, perbuatan, sikap dan lain
sebagainya. Untuk dapat menilai hasil tes tersebut diperlukan adanya instrument
tertentu dan setiap gejala yang muncul diberikan skor tertentu pula.
Contoh : misalkan instrument yang
dipergunakan dalam mengamati calon guru yang melaksanakan praktek mengajar,
aspek-aspek yang diamati meliputi 17 unsur dengan skor minimum 1 ( satu ) dan
maksimum ( lima ).
D.
TEKNIK PEMBERIAN SKOR HASIL TES
HASIL BELAJAR
1.
Penskoran
Penskoran
merupakan langkah pertama dalam proses pengolahan hasil tes. Penskoran adalah
suatu proses pengubahan jawaban-jawaban tes menjadi angka-angka.
Angka-angka
hasil penskoran itu kemudian diubah menjadi nilai-nilai melalui suatu proses
pengolahan tertentu. Penggunaan simbol untuk menyatakan nilai-nilai itu ada
yang dengan angka, seperti angka dengan rentangan 0 – 10, 0 – 100, 0 – 4, dan
ada pula yang dengan huruf A, B, C, D, dan E. Cara menskor hasil tes biasanya
disesuaikan dengan bentuk soal-soal tes yang dipergunakan, apakah tes objektif
atau tes essay, atau dengan bentuk lain.
a)
Pemberian skor untuk tes bentuk
benar-salah, dalam menentukan angka atau skor
untuk tes bentuk benar-salah ini kita dapat menggunakan 2 cara, yaitu : (1)
Tanpa denda, dan (2) Dengan denda. Tanpa denda adalah banyaknya angka yang
diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci. Sedangkan dengan
denda ( karena diragukan ada unsur tebakan ), digunakan 2 macam rumus :
Pertama, dengan rumus :
|
S = R – W
|
S =Score
R = Right
W = Wrong
Skor yang diperoleh siswa sebanyak jumlah soal yang
benar dikurangi dengan jumlah soal yang salah.
Contoh :
-
Banyaknya soal = 10 butir
-
Yang betul = 8 butir soal
-
Yang salah = 2 butir soal
Jadi, 8 - 2 = 6
Kedua, dengan rumus
:
|
S = T – 2W
|
T = Total, artinya jumlah soal dalam tes
Contoh di atas
dihitung : S = 10 – ( 2 x 2 ) = 10 – 4 = 6
b)
Pemberian skor untuk tes bentuk
pilihan ganda ( multiple choice ), dengan tes
bentuk pilihan ganda, testee diminta melingkari salah satu huruf di depan
pilihan jawaban yang disediakan atau membubuhkan tanda lingkaran atau tanda
silang (X) pada tempat yang sesuai di lembar jawaban. Dalam menentukan skor
untuk tes pilihan ganda, dikenal 2 macam cara pula yakni tanpa denda dan dengan
denda. Tanpa denda apabila banyaknya angka dihitung dari banyaknya jawaban yang
cocok dengan kunci jawaban. Sedangkan dengan denda menggunakan rumus :
S = R - ( W : n - 1 )
S = Score
R = Right
W = Wrong
n = Banyaknya pilihan
menjawab
Contoh :
- Banyaknya soal = 10 butir
- Banyaknya yang betul = 8 butir
- Banyaknya yang salah = 2 butir
- Banyaknya pilihan = 3 butir
Maka skornya adalah : S = 8 – ( 2 : 3 – 1 ) = 8 – ( 2 : 2 ) = 8 – 1 = 7
c)
Pemberian skor untuk tes bentuk
jawab singkat ( short answer test ), tes bentuk jawab singkat adalah
bentuk tes yang menghendaki jawaban berbentuk kata atau kalimat pendek. Maka
jawaban untuk tes tersebut tidak boleh berbentuk kalimat-kalimat panjang,
tetapi harus sesingkat mungkin dan mengandung satu pengertian. Dengan
persyaratan inilah maka bentuk tes ini dpaat digolongkan ke dalam bentuk tes
objektif.Dengan mengingat jawaban yang hanya satu pengertian saja. Maka angka
bagi tiap nomor soal mudah ditebak. usaha yang dikeluarkan oleh siswa sedikit,
tetapi lebih sulit daripada tes bentuk betul-salah atau pilihan ganda. Dalam
tes bentuk ini, sebaiknya tiap soal diberi angka 2 (dua). Tetapi apabila
jawabannya bervariasi misalnya lengkap sekali, lengkap, dan kurang lengkap,
maka angkanya dapat dibuat bervariasi pula misalnya 2, 1,5, dan 1.
d)
Pemberian skor untuk tes bentuk
menjodohkan ( maching test ), pada dasarnya tes bentuk
menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda, dimana jawaban-jawaban dijadikan
satu, demikian pula pertanyaan-pertanyaannya. Karena tes bentuk menjodohkan
adalah tes bentuk pilihan ganda yang lebih kompleks. Maka angka yang diberikan
sebagai imbalan juga harus lebih banyak. Sebagai ancar-ancar dapat ditentukan
bahwa angka untuk tiap nomor adalah 2 (dua).
e)
Pemberian skor untuk tes bentuk
uraian, sebelum menyusun sebuah tes uraian sebaiknya kita
tentukan terlebih dahulu pokok-pokok jawaban yang kita kehendaki. Dengan
demikian, maka akan mempermudah kita dalam mengoreksi tes itu.Tidak ada jawaban
yang pasti terhadap tes bentuk uraian ini. Jawaban yang kita peroleh akan
sangat beraneka ragam, beda antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.
Langkah-langkah pemberian skornya adalah:
1) membaca soal
pertama dari seluruh siswa untuk memperoleh gambaran mengenai lengkap tidaknya
jawaban yang diberikan siswa secara keseluruhan.
2) Menentukan
angka untuk soal pertama tersebut. Misalnya jika jawabannya lengkap diberi
angka 5, kurang sedikit diberi angka 4, begitu seterusnya.
3)
Mengulangi langkah-langkah tersebut
untuk soal tes kedua, ketiga, dan seterusnya.
4) Menjumlahkan
angka-angka yang diperoleh oleh masing-masing siswa untuk tes bentuk uraian.
Alternatif
kedua untuk pemberian skor pada tes bentuk uraian adalah dengan menggunakan
cara pemberian angka yang relatif. Misalnya untuk sesuatu nomor soal jawaban
yang paling lengkap hanya mengandung 3 unsur, padahal yang kita kita
menghendaki 5 unsur, maka kepada jawaban yang paling lengkap itulah kita
berikan angka 5, sedangkan yang menjawab hanya 2 atau 1 unsur, kita beri angka
lebih sedikit, yaitu misalnya 3,5; 2; 1,5; dan seterusnya.
Apa yang telah
diterangkan adalah cara memberikan angka dengan menggunakan atau mendasarkan
pada norma kelompok (norm referenced test). Apabila dalam memberikan
angka menggunakan atau mendasarkan pada standar mutlak (Criterion referenced
test), maka langkah-langkahnya adalah:
1)
Membaca setiap jawaban yang
diberikan oleh siswa dan dibandingkan dengan kunci jawaban yang telah disusun.
2)
Membubuhkan skor di sebelah kiri
setiap jawaban. Ini dilakukan per nomor soal.
3)
Menjumlahkan skor-skor yang telah
dituliskan pada setiap soal.
Dengan cara ini
maka skor yang diperoleh siswa tidak dibandingkan dnegan jawaban paling lengkap
yang diberikan oleh siswa lain, tetapi dibandingkan dengan jawaban lengkap yang
dikehendaki dan sudah ditentukan oleh guru.
f)
Pemberian skor untuk bentuk tugas, tolak ukur
untuk keberhasilan tugas adalah sebagai berikut :
1)
Ketepatan waktu.
2)
Bentuk fisik pengerjaan tugas yang
menandkan keseriusan dalam mengerjakan tugas.
3)
Sistematika yang menunjukkan alur
keruntutan pikiran.
4)
Kelengkapan isi menyangkut
ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi.
5)
Mutu hasil tugas, yaitu kesesuaian
hasil dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh guru.
Dalam mempertimbangkan
nilai akhir perlu dipikirkan peranan masing-masing aspek kriteria tersebut,
misalnya demikian :
Maka nilai
akhir untuk tugas tersebut diberikan dengan rumus :
NAT=
=
= 
= 
= 2,67
NAT : Nilai
Akhir Tugas
2.
Perbedaan Skor dan Nilai
Apa yang
terjadi selama ini, banyak di antara para guru yang masih mencampuradukkan
antara dua pengertian, yaitu skor dan nilai.
Nilai adalah hasil
pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap
soal tes yang dijawab betul oleh siswa, dengan memperhitungkan bobot jawaban
betulnya.
Skor adalah angka
(bisa juga huruf) yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor
lainnya, serta dengan menggunakan acuan/standar tertentu, yakni acuan patokan
dan acuan norma.
a)
Penilaian Acuan Patokan ( PAP )
Suatu penilaian disebut PAP jika
dalam melakukan penilaian itu mengacu pada suatu kriteria pencapaian tujuan
yang telah dirumuskan sebelumnya. Sebagai contoh, misalkan untuk dapat diterima
sebagai calon penerbang di sebuah lembaga penerbangan, setiap calon harus
memenuhi syarat antara lain tinggi badan sekurang-kurangnya 165 cm dan memiliki
tingkat kecerdasan (IQ) serendah-rendahnya 130. Berdasarkan kriteria atau
patokan itu, siapapun calon yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut
dinyatakan gagal dalam tes atau tidak akan diterima sebagai calon penerbang.
b)
Penilaian Acuan Norma ( PAN )
Penilaian acuan norma adalah
penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok, nilai-nilai yang
diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang lain yang
termasuk di dalam kelompok itu. Yang dimaksud dengan “ norma ” dalam hal ini
adalah kapasitas atau prestasi kelompok, sedangkan yang dimaksud dengan “kelompok”
adalah semua siswa yang mengikuti tes tersebut. Nilai hasil PAN tidak
mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran
yang diteskan, tetapi hanya menunjukkan kedudukan siswa di dalam peringkat
kelompoknya.
E.
KEBAIKAN DAN KELEMAHAN MASING-MASING
TES
Dalam alat-alat evaluasi pendidikan, pasti memiliki
kebaikan atau kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Berikut kelebihan dan
kelemahan masing-masing tes :
1.
Tes Esay
Kelebihan dari tes esay adalah
sebagai berikut :
a)
Peserta didik dapat
mengorganisasikan jawaban dengan pendapatnya sendiri.
b)
Murid tidak dapat menerka-nerka
jawaban soal.
c)
Tes ini sangat cocok untuk mengukur
dan mengevaluasi hasil suatu proses belajar yang kompleks yang sukar diukur
dengan mempergunakan test objektif.
d)
Derajat ketepatan dan kebenaran murid
dapat dilihat dari kalimat-kalimatnya.
e)
Jawaban diungkapakan dalam kata-kata
dan kalimat sendiri, sehingga tes ini dapat digunakan untuk melatih penyusunan
kalimat dengan bahasa yang baik, benar, dan cepat.
f)
Tes ini digunakan dapat melatih
peserta didik untuk memilih fakta yang relevan dengan persoalan, dan Sukar
dinilai secara tepat mengorganisasikannya sehingga dapat mengungkapkan satu
hasil pemikiran yang terintegrasi secara utuh.
Sedangkan
kelemahan dari tes ini yaitu :
a)
Sukar dinilai secara tepat.
b)
Bahan yang diukur terlalu sedikit,
sehingga agak sulit untuk mengukur penguasaan siswa terhadap keseluruhan
kurikulum.
c)
Sulit mendapatkan soal yang memiliki
standar nasional maupun internasional.
d)
Membutuhkan waktu untuk memeriksa
hasilnya.
2.
Tes objektif
Kelebihan tes objektif yaitu :
a)
Untuk menjawab tes objektif tidak
banyak memakai waktu.
b)
Reabilitasnya lebih tinggi kalau di
bandingkan dengan tes esay, karena penilainnya bersifat objektif.
c)
Pemberian nilai dan cara menilai
test objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus dari
pada si pemberi nilai.
d)
Tidak memperdulikan penguasaan
bahasa, sehingga mudah dilaksanakan.
e)
Validitas tes objektif lebih tinggi
dari tes esay, karena samplingnya lebih luas.
Sedangkan
kelemahan tes objektif yaitu :
a)
Murid sering menerka-nerka dalam
memberikan jawaban, karena mereka belum menguasai bahan pelajaran tersebut.
b) Memang tes sampling yang diajukan
kepada murid-murid cukup banyak, dan hanya membutuhkan waktu yang relatif
singkat untuk menjawabnya.
c)
Tidak bisa mengajak murid untuk
berpikir taraf tinggi.
d)
Banyak memakan biaya, karena
lembaran item-item tes harus sebanyak jumlah pengikut tes.
3.
Tes Benar-Salah ( True-False
)
Kelebihan tes Benar-Salah
diantaranya :
a)
Soal ini baik untuk hasil-hasil,
dimana hanya ada dua alternatif jawaban.
b)
Tuntutan kurang ditekankan pada
kemampuan baca.
c)
Sejumlah soal relatif dapat dijawab
dalam tipe test secara berkala.
d)
Penilaian mudah, objektif, dan dapat
dipercaya.
Kelemahan dari
tes ini adalah :
a)
Sulit menuliskan soal diluar tingkat
pengetahuan yang bebas dari maksud ganda.
b)
Jawaban soal tidak memberikan bukti
bahwa siswa mengetahui dengan baik.
c)
Tidak ada informasi diagnostik dari
jawaban yang salah.
d)
Memungkinkan dan mendorong siswa
untuk menerka-nerka.
4.
Tes Pilihan Ganda ( Multiple
Choice )
Kelebihan dari tes pilihan ganda
yaitu :
a)
Hasil belajar yang sederhana sampai
yang komplek dapat diukur.
b)
Terstruktur dan petunjuknya jelas.
c)
Alternatif jawaban yang salah dapat
memberikan informasi diagnostik.
d)
Tidak dimungkinkan untuk menerka
jawaban.
e)
Penilaian mudah, objektif dan dapat
dipercaya.
Kelemahan dari
tes pilihan ganda yaitu :
a)
Menyusunnya membutuhkan waktu yang
lama.
b)
Sulit menemukan pengacau.
c) Kurang efektif mengukur beberapa
tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide.
d)
Nilai dapat dipengaruhi dengan
kemampuan baca.
5.
Tes Menjodohkan ( Maching Test
)
Kelebihan dari tes menjodohkan yaitu
:
a)
Suatu bentuk yang efisien diberikan
dimana sekelompok respon sama menyesuaikan dengan rangkaian isi soal.
b) Waktu membaca dan merespon relatif
singkat.
c)
Mudah untuk dibuat.
d)
Penilaian mudah, objektif, dan dapat
dipercaya.
Kelemahan dari
tes menjodohkan yaitu :
a) Materi soal dibatasi oleh faktor
ingatan/ pengetahuan yang sederhana dan kurang dapat dipakai untuk mengukur
penguasaan yang bersifat pengertian dan kemampuan membuat tafsiran.
b)
Sulit menyusun soal yang mengandung
sejumlah respon yang homogen.
c)
Mudah terpengaruh dengan petunjuk
yang tidak relevan.
6.
Tes Isian ( Fill In )
Kelebihan dari tes isian diantaranya
:
a)
Sangat mudah dalam penyusunannya.
b)
Lebih menghemat tempat ( menghemat
kertas ).
c)
Persyaratan komprehensif dapat
dipenuhi oleh tes model ini.
d)
gunakan untuk mengukur berbagai
taraf kompetensi dan tidak sekedar mengungkap taraf pengenalan atau hafalan
saja.
Kelemahan dari
tes ini diantaranya :
a)
Lebih cenderung mengungkap daya
ingat atau aspek hafalan saja.
b)
Butir- butir item dari test model
ini kurang relevan untuk diajukan.
c)
Tester kurang berhati-hati dalam menyusun
kalimat dalam soal.
7.
Tes Jawaban Singkat ( Short
Answer )
Kelebihan dari tes ini yaitu :
a)
Mdah dalam perbuatan.
b)
Kemungknan menebak jawaban sangat
sulit.
c)
Cocok untuk soal- soal hitungan.
d)
Hasil- hasil pengetahuan dapat
diukur secara luas.
Kelemahan dari
tes ini yaitu :
a)
Sulit menyusun kata-kata yang
jawabannya hanya satu.
b)
Tidak cocok untuk mengukur hasil-
hasil belajar yang komplek.
c)
Penilaian menjemukan dan memerlukan
waktu banyak.