Sabtu, 20 Desember 2014

Makalah Evaluasi Pendidikan Alat-alat Evaluasi Pendidikan



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN TES
Berikut arti dari beberapa istilah-istilah yang berhubungan dengan tes :
1.         Tes, merupakan prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
2.         Testing, merupakan saat pada waktu tes itu dilaksanakan. Dapat juga dikatakan testing adalah saat pengambilan tes.
3.         Testee, merupakan responden yang sedang mengerjakan tes.
4.         Tester, adalah orang yang melaksanakan pengambilan tes terhadap responden. Dengan kata lain, tester adalah subjek evaluasi (tetapi adakalanya hanya orang yang ditunjuk oleh subjek evaluasi untuk melaksanakan tugasnya ). Sedangkan tugas tester antara lain adalah :
a)      Mempersiapkan ruangan dan perlengkapan yang diperlukan
b)      Membagikan lembaran tes dan alat-alat lain untuk mengerjakan.
c)      Menerangkan cara mengerjakan tes.
d)      Mengawasi responden mengerjakan tes.
e)      Memberikan tanda-tanda waktu.
f)       Mengumpulkan pekerjaan responden.
g)      Mengisi berita acara atau laporan yang diperlukan.
Sedangkan tes itu sendiri berasal dari bahasa Latin “testum” yang berarti alat untuk mengukur tanah. Dalam bahasa Prancis kuno kata tes berarti ukuran yang dipergunakan untuk membedakan antara emas dengan perak serta logam lainnya. Sedangkan Sumadi Suryabrata, mengartikan tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dikerjakan, yang mendasarkan harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah-perintah itu, penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar atau testee lainnya.
Dari kedua pengertian di atas dapat diambil pengertian, tes adalah alat pengukur berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang ditujukan kepada testee untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu. Atas dasar respon tersebut ditentukan tinggi rendahnya skor dalam bentuk kuantitatif selanjutnya dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan untuk ditarik kesimpulan yang bersifat kuantitatif.
Dalam kaitannya dengankegiatan belajar mengajar, maka yang dimaksud dengan tes hasil belajar adalah tes yangdipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru kepada murid-muridnya, atau dosen kepada mahasiswanya dalam jangka waktu tertentu. Atau tes hasil belajar adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalamrangka menilai hasil belajar anak didik, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas (baik yang berupa pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintah) yang harus dikerjakan anak didik, sehingga menghasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi belajar yang dicapai anak didik,  nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai oleh anak-anak didik lainnya, atau dibandingkan dengan nilai standart tertentu.
.    B. ALAT-ALAT EVALUASI PENDIDIKAN
Alat-alat evaluasi pendidikan yang juga dikenal lain yaitu “ teknik evaluasi pendidikan “ adalah segala macam alat atau aktivitas yang dapat dipergunakan dalam rangka melalukan kegiatan dalam lapangan pendidikan.
Secara garis besar, alat-alat atau teknik evaluasi pendidikan itu dapat dibedakan ke dalam dua golongan, yaitu :
1.         Teknik tes
2.         Teknik non tes
Dalam kegiatan mengukur sebagai suatu tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam lapangan pendidikan, pada umumnya tertuang dalam bentuk tes. Dalam kaitan ini teknik tes adalah merupakan suatu teknik yang dipergunakan dalam evaluasi pendidikan dengan “ tes “ sebagai material alat ukurnya untuk menilai ( mengevaluasi ) bidang tertentu dalam pendidikan.
Tes apabila ditinjaulebih jauh, maka akan dapat dilihat dari berbagai segi :
1.         Tes ditinjau dari berbagai fungsinya, dapat dibagi atas :
a.      Speed test atau tes kecepatan, yaitu suatu tes untuk mengetahui kecepatan seseorang mengerjakan suatu tugas dengan kelompok soal-soal yang relatif kesulitannya dianggap sama.
b.      Power testatau tes batas kesanggupan, yaitu suatu tes untuk mengetahui sejauhmana kemampuan peserta didik yang hendak dites.
c.       General survey test,yaitu dilakukan untuk mengetahui tingkat pelajaran yang dikuasai seseorang yang dibandingkan dengan kecepatan orang lain yang dianggap sebaya dengan kepandaiannya.
d.      Diagnostic testatau tes pengukuran, yaitu suatu tes yang dilakukan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang dialami oleh peserta didik atau suatu unit pelajaran, sehingga dapat diketahui hal-hal yang perlu mendapat perbaikan.
2.         Tes ditinjau dari segi banyaknya orang yang dites. Tes ini terdiri atas :
a.      Test individual, yaitu tes yang diberikan kepada peserta didik untuk dapat mengetahui faktor-faktor individualnya.
b.      Test kelompok,yaitu tes yang diberikan oleh seorang guru atau beberapa orang guru kepada sekelompok peserta didik.
3.         Tes ditinjau dari segi cara penyampaian bahan, dapat dibagi atas :
a.      Test bahasa,yaitu tes untuk menguji kemampuan berbahasa. Ini dapat ditempuh dengan lisan atau tulisan.
b.      Test perbuatan atau test tingkah laku. Ini dapat dilakukan dengan menyuruh mempraktekkan, seperti praktek wudhu, salat, dan sebagainya.
4.         Tes ditinjau dari segi proses pembuatan tes, terdiri atas :
a.      Standardiset test,yaitu tes yang disusun oleh suatu lembaga, yang orang-orangnya terdiri atas orang-orang yang ahli pada bidang mata pelajaran yang hendak diteskan itu.
b.      Test buatan guru,yaitu tes yang dibuat oleh seorang guru sendiri dalam mata pelajaran tertentu.
5.         Tes ditinjau dari segi awal dan akhir pelaksanaan program pengajaran, yaitu :
a.      Test awal atau pre test,yaitu tes yang dilakukan sebelum pelajaran inti diberikan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik dapat menguasai pelajaran yang akan diberikan.
b.      Post test,yaitu tes yang diberikan pada akhir pelajaran. Tes ini disebut juga test formatif, yaitu test untuk mengukur pencapaian TIK (Tujuan Instruksional Khusus) yang merupakan umpan balik untuk mencari motivasi dari suatu masalah terhadap guru untuk mempelajari kelemahan-kelemahan dalam pengujian dan sebagainya.
c.       Sumatif test,yaitu tes yang dilakukan pada tiap akhir caturwulan untuk mengetahui penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah disampaikan dalam setiap caturwulan.
6.         Tes ditinjau dari segi tujuan khusus dilaksanakannya. Tes ini terdiri dari :
a.        Achievement test atau tes penguasaan, yaitu test yang bertujuan meneliti tingkat kemajuan yang dicapai peserta didik dalam suatu pelajaran.
b.        Intelligence testatau test kecerdasan, yaitu test yang bertujuan meneliti atau mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik.
c.         Test minat,yaitu test yang dilaksanakan dengan tujuan untuk meneliti kecenderungan atau minat peserta didik.
d.        Test kepribadian,yaitu suatu test yag dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sifat pribadi peserta didik.
7.         Tes ditinjau dari segi strukturnya, yaitu :
a.      Essay test atau tes menerangkan, yaitu suatu bentuk tes yang meminta jawaban dengan jalan menerangkan sehingga memerlukan jawaban agak panjang. Tes ini terbagi atas :
1)      Short answer test, yaitu tes menjawab pendek. Biasanya pertanyaan diakhiri dengan akhiran “kah”.
2)      Completion test, yaitu tes melengkapi. Biasanya dibuat dengan kalimat yang tidak lengkap, hanya dengan titik-titik (…….).
b.      Tes pilihan, terdiri dari :
1)      True False test,yaitu tes yang terdiri atas pernyataan-pernyataan yang mengandung salah satu dari dua kemungkinan benar atau salah.
2)      Multiple choice test atau tes pilihan ganda. Peserta tes dituntut untuk memilih salah satu dari pernyataan-pernyataan yang tersedia sebagai jawaban yang tepat.
3)      Matching testatau tes menjodohkan. Peserta didik dituntut untuk menjodohkan pernyataan-pernyataan yang paling ada hubungannya secara logis dan tepat.
4)      Rearrangment test atau tes mengatur kembali. Tes ini merupakan pernyataan yang tidak teratur dan peserta didik diharap menyusun dengan rapi dan benar.

1.     NON TEST
Teknik non test pada umumnya dilakukan dengan tanpa “ menguji “ peserta didik, dan memegang peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup ( affective domain ) dan ranah keterampilan ( psychomotoric domain ). Teknik non test dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a)   Skala Bertingkat
Skala bertingkat (rating scale), yaitu nilai yang berbentuk angka. Perkataan Oppenheim:”Rating gives a numerical value to some kind of judgment ”, sehingga suatu skala selalu disajikan dalam bentuk angka.
b)   Kuesioner
Kuesioner ( quesionary ), yaitu angket / sebuah pertanyaan yang harus diisi oleh responden. Macam-macam kuesioner :
(1)     Ditinjau dari segi siapa yang menjawab :
-  Langsung : dikirimkan dan langsung diisi oleh orang yang dimintai jawaban tentang dirinya.
-  Tidak langsung : dikirim dan diisi oleh orang lain ( bukan orang yang diminta secara langsung ), biasanya digunakan untuk mencari info tentang anak, tetangga, saudara dan sebagainya.
(2)     Ditinjau dari segi cara menjawab :
-  Tertutup : disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga pengisi tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
-  Terbuka : pengisi bebas mengemukakan pendapatnya, biasanya digunakan untuk meminta pendapat seseorang.
c)    Daftar Check
Daftar cocok (check-list), yaitu pernyataan singkat dan responden tinggal memberi tanda (v) pada jawaban yang ia pilih pada tempat yang telah disediakan.
d)   Wawancara
Wawancara ( interview ), yaitu cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak ( responden tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya ). Cara melakukan wawancara :
(1)     Bebas, responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapat tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang dibuat oleh penanya.
(2)     Terpimpin, penanya mengajukan pertanyaan yang sudah disusun terlebih dahulu, penanya tinggal memberikan tanda cocok di tempat yang sesuai dengan jawaban responden ( penanya dan responden sama-sama terpimpin oleh pertanyaan yang disusun ).
e)   Pengamatan
Pengamatan ( observation ), yaitu cara yang digunakan dengan mengadakan pengamatan secara teliti dan pencatatan yang sistematis. Macam-macam observasi :
(1)     Partisipan, pengamat ikut serta dalam kelompok yang sedang diamati. Pengamat harus benar-benar ikut serta agar ia bisa menghayati dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang diamati.
(2)     Sistematik, faktor-faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya. Pengamat berada di luar kelompok ( dilihat dari sisi sistematisnya dilakukan oleh penanya ).
(3)     Eksperimental, pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok. Pengamat dapat mengendalikan unsur-unsur penting dalam situasi sehingga dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.

f)     Riwayat Hidup
Riwayat hidup, yaitu gambaran keadaan seseorang semasa hidupnya. Dengan mempelajari riwayat hidup, penanya dapat mengambil kesimpulan tentang kebiasaan dan kepribadian serta sikap responden.

2.     ACHIEVMENT TEST
Achievement testatau tes penguasaan, yaitu test yang bertujuan meneliti tingkat kemajuan yang dicapai peserta didik dalam suatu pelajaran. Achievment test terbagi menjadi 2, yaitu :
a)   Tes Esay
Essay testatau tes menerangkan, yaitu suatu bentuk tes yang meminta jawaban dengan jalan menerangkan sehingga memerlukan jawaban agak panjang. Tes ini terbagi atas :
(1)     Short answer test, yaitu tes menjawab pendek. Biasanya pertanyaan diakhiri dengan akhiran “ kah ”.
(2)     Completion test, yaitu tes melengkapi. Biasanya dibuat dengan kalimat yang tidak lengkap, hanya dengan titik-titik (…….).
b)   Tes Obyektif
Objective test atau tes obyektif, yaitu tes yang penilaiannya  tidak membutuhkan judgement dalam penentuan nilai dan hanya ada 2 ketentuan yaitu salah dan benar. Tes obyektif terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
(1)     True-False, yaitu tes yang terdiri atas pernyataan-pernyataan yang mengandung salah satu dari dua kemungkinan benar atau salah.
(2)     Multiple Choice atau tes pilihan ganda. Peserta tes dituntut untuk memilih salah satu dari pernyataan-pernyataan yang tersedia sebagai jawaban yang tepat.
(3)     Matching Test atau tes menjodohkan. Peserta didik dituntut untuk menjodohkan pernyataan-pernyataan yang paling ada hubungannya secara logis dan tepat.
(4)     Fill in, yaitu tes melengkapi kalimat yang kurang lengkap. Tes ini juga bisa disebut dengan Completion test.

C.     TEKNIK PEMERIKSAAN HASIL TES BELAJAR
Tes hasil belajar dapat diselenggarakan secara tertulis ( tes tertulis ),  secara lisan ( tes lisan ) dan dengan tes perbuatan. Adanya perbedaan pelaksanaan tes hasil belajar tersebut menuntut adanya perbedaan dalam pemeriksaan hasil-hasilnya.

1.         Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Tertulis
Tes hasil belajar yang diselenggarakan secara tertulis dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu: tes hasil belajar ( tertulis ) bentuk uraian ( subjective test = essay test ) dan tes hasil belajar ( tertulis ) bentuk obyektif ( objective test ). Karena kedua bentuk tes hasil belajar itu memiliki karakteristik yang berbeda, sudah barang tentu teknik pemeriksaan hasil-hasilnya pun berbeda pula.
a)      Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Bentuk Uraian
Dalam pelaksanaan pemeriksaan hasil tes uraian ini ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu: (1) apakah nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu akan didasarkan pada standar mutlak atau: (2) apakah nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes subyektif itu akan didasarkan pada standar relatif.
Apabila nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu akan didasarkan pada standar mutlak (dimana penentuan nilai secara mutlak akan didasarkan pada prestasi individual), maka prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut:
1)      Membaca setiap jawaban yang diberikan oleh testee dan membandingkannya dengan pedoman yang sudah disiapkan.
2)      Atas dasar hasil perbandingan tersebut, tester lalu memberikan skor untuk setiap butir soal dan menuliskannya di bagian kiri dari jawaban testee tersebut.
3)      Menjumlahkan skor-skor yang telah diberikan.
Adapun apabila nantinya pengolahan dan penentuan nilai akan didasarkan pada standar relative ( di mana penentuan nilai akan didasarkan pada prestasi kelompok ), maka prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut :
1)      Memeriksa jawaban atas butir soal nomor 1 yang diberikan oleh seluruh testee, sehingga diperoleh gambaran secara umum mengenai keseluruhan jawaban yang ada.
2)      Memberikan skor terhadap jawaban soal nomor 1 untuk seluruh testee.
3)      Mengulangi langkah-langkah tersebut untuk soal tes kedua, ketiga, dan seterusnya.
4)      Setelah jawaban atas seluruh butir soal yang diberikan oleh seluruh testee dapat diselesaikan, akhirnya dilakukanlah penjumlahan skor (yang nantinya akan dijadikan bahan dalam pengolahan dan penentuan nilai ).
b)     Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Bentuk Obyektif
Memeriksa atau mengoreksi jawaban atas soal tes objektif pada umumnya dilakukan dengan jalan menggunakan kunci jawaban, ada beberapa macam kunci jawaban yang dapat dipergunakan untuk mengoreksi jawaban soal tes objektif, yaitu  sebagai berikut :
1)      Kunci Berdampingan ( strip keys ), terdiri dari jawaban – jawaban yang benar yang ditulis dalam satu kolom yang lurus dari atas kebawah, adapun cara menggunakannya adalah dengan meletakan kunci jawaban tersebut berjajar dengan lembar jawaban yang akan diperiksa, lalu cocokkan, apabila jawaban yang diberikan oleh teste benar maka diberi tanda ( + ) dan apabila salah diberi tanda ( - ).
2)      Kunci System Carbon ( Carbon System Key ), pada kunci jawaban system ini teste diminta membubuhkan tanda silang ( X ) pada salah satu jawaban yang mereka anggap benar kemudian kunci jawaban yang telah dibuat oleh teste tersebut diletakan diatas lembar  jawaban teste yang sudah ditumpangi karbon kemudian tester memberikan lingkaran pada setiap jawaban yang benar sehingga ketika diangkat maka, dapat diketahui apabila jawaban teste yang berada diluar lingkaran berarti salah sedangkan yang berada didalam adalah benar.
3)      Kunci System Tusukan ( Panprick System Key ), pada dasarnya kunci system tusukan adalah sama dengan kunci system karbon. Letak perbedaannya ialah pada kunci sistem ini, untuk jawaban yang benar diberi tusukan dengan paku atau alat penusuk lainnya sementara lembar jawaban testee berada dibawahnya, sehingga tusukan tadi menembus lembar jawaban yang ada dibawahnya. Jawaban yang benar akan tekena tusukan dsedangkan yang salah tidak.
4)      Kunci Berjendela ( Window Key ), prosedur kunci berjendela ini adalah sebagai berikut :
(a)   Ambilah blanko lembar jawaban yang masih kosong.
(b)   Pilihan jawaban yang benar dilubangi sehingga seolah – olah menyerupai jendela.
(c)    Lembar jawaban teste diletakan dibawah  kunci berjendela.
(d)   Melalui lubang tersebut kita dapat membuat garis vertical dengan pencil warna sehingga jawaban yang terkena pencil warna tersebut berarti benar dan sebaliknya.

2.      Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Lisan
Pemeriksaan yang dilaksanakan dalam rangka menilai jawaban – jawaban testee pada tes hasil belajar secara lisan pada umumnya bersifat subjektif, sebab dalam tes lisan itu tester tidak berhadapan dengan lembar jawaban soal yang wujudnya adalah benda mati, melainkan berhadapan dengan individu atau makhluk hidup yang masing – masing mempunyai ciri dan karakteristik berbeda sehingga memungkinkan bagi tester untuk bertindak kurang atau bahkan tidak objektif.
Dalam hal ini, pemeriksaan terhadap jawaban testee hendaknya dikendalikan oleh pedoman yang pasti, misalnya sebagai berikut :
a)      Kelengkapan Jawaban Yang Diberikan Oleh Testee
Pernyataan tersebut mengandung makna “ apakah jawaban yang diberikan oleh testee sudah memenuhi semua unsur yang seharusnya ada dan sesuai dengan kunci jawanban yang telah disusun oleh tester.

b)     Kelancaran Testee Dalam Mengemukakan Jawaban
Mencakup apakah dalam memberikan jawaban lisan atas soal–soal yang diajukan kepada testee itu cukup lancar sehingga mencerminkan tingkat pemahaman testee terhadap materi pertanyaan yang diajukan kepadanya.
c)      Kebenaran Jawaban Yang Dikemukakan
Jawaban panjang yang dikemukakan oleh testee secara lancar dihadapan tester, belum tentu merupakan jawaban yang benar sehingga tester harus benar–benar memperhatikan jawaban testee tersebut, apakah jawaban testee itu mengandung kadar kebenaran yang tinggi atau sebaliknya.
d)     Kemampuan Testee Dalam Mempertahankan Pendapatnya
Maksudnya, apakah jawaban yang diberikan dengan penuh kenyakinan akan kebenarannya atau tidak. Jawaban yang diberikan oleh testee secara ragu–ragu merupakan salah satu indikator bahwa testee kurang menguasai materi yang diajukan kepadanya.
Demikian seterusnya, penguji dapat menambahkan unsur lain yang dirasa perlu dijadikan bahan penilaian seperti : perilaku, kesopanan, kedisiplinan dalam menghadapi penguji ( tester ).

3.      Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Perbuatan
Dalam tes perbuatan ini pemeriksaan hasil-hasil tesnya dilakukan dengan menggunakan observasi ( pengamatan ). Sasaran yang perlu diamati adalah tingkah laku, perbuatan, sikap dan lain sebagainya. Untuk dapat menilai hasil tes tersebut diperlukan adanya instrument tertentu dan setiap gejala yang muncul diberikan skor tertentu pula.
Contoh : misalkan instrument yang dipergunakan dalam mengamati calon guru yang melaksanakan praktek mengajar, aspek-aspek yang diamati meliputi 17 unsur dengan skor minimum 1 ( satu ) dan maksimum ( lima ).




D.    TEKNIK PEMBERIAN SKOR HASIL TES HASIL BELAJAR
1.      Penskoran
Penskoran merupakan langkah pertama dalam proses pengolahan hasil tes. Penskoran adalah suatu proses pengubahan jawaban-jawaban tes menjadi angka-angka.
Angka-angka hasil penskoran itu kemudian diubah menjadi nilai-nilai melalui suatu proses pengolahan tertentu. Penggunaan simbol untuk menyatakan nilai-nilai itu ada yang dengan angka, seperti angka dengan rentangan 0 – 10, 0 – 100, 0 – 4, dan ada pula yang dengan huruf A, B, C, D, dan E. Cara menskor hasil tes biasanya disesuaikan dengan bentuk soal-soal tes yang dipergunakan, apakah tes objektif atau tes essay, atau dengan bentuk lain.
a)        Pemberian skor untuk tes bentuk benar-salah, dalam menentukan angka atau skor untuk tes bentuk benar-salah ini kita dapat menggunakan 2 cara, yaitu : (1) Tanpa denda, dan (2) Dengan denda. Tanpa denda adalah banyaknya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci. Sedangkan dengan denda ( karena diragukan ada unsur tebakan ), digunakan 2 macam rumus :
Pertama, dengan rumus :
S = R – W

S   =Score
R   = Right
W  = Wrong
Skor yang diperoleh siswa sebanyak jumlah soal yang benar dikurangi dengan jumlah soal yang salah.
Contoh :
-       Banyaknya soal           = 10 butir
-       Yang betul                   = 8 butir soal
-       Yang salah                   = 2 butir soal
Jadi, 8 - 2 = 6



Kedua, dengan rumus :
S = T – 2W

T   = Total, artinya jumlah soal dalam tes
Contoh di atas dihitung : S = 10 – ( 2 x 2 ) = 10 – 4 = 6
b)        Pemberian skor untuk tes bentuk pilihan ganda ( multiple choice ), dengan tes bentuk pilihan ganda, testee diminta melingkari salah satu huruf di depan pilihan jawaban yang disediakan atau membubuhkan tanda lingkaran atau tanda silang (X) pada tempat yang sesuai di lembar jawaban. Dalam menentukan skor untuk tes pilihan ganda, dikenal 2 macam cara pula yakni tanpa denda dan dengan denda. Tanpa denda apabila banyaknya angka dihitung dari banyaknya jawaban yang cocok dengan kunci jawaban. Sedangkan dengan denda menggunakan rumus :
S = R - ( W : n - 1 )
S   = Score
R   = Right
W  = Wrong
n   = Banyaknya pilihan menjawab
Contoh :
-       Banyaknya soal           = 10 butir
-       Banyaknya yang betul    = 8 butir
-       Banyaknya yang salah    = 2 butir
-       Banyaknya pilihan            = 3 butir
Maka skornya adalah : S = 8 – ( 2 : 3 – 1 ) = 8 – ( 2 : 2 ) = 8 – 1 = 7
c)         Pemberian skor untuk tes bentuk jawab singkat ( short answer test ), tes bentuk jawab singkat adalah bentuk tes yang menghendaki jawaban berbentuk kata atau kalimat pendek. Maka jawaban untuk tes tersebut tidak boleh berbentuk kalimat-kalimat panjang, tetapi harus sesingkat mungkin dan mengandung satu pengertian. Dengan persyaratan inilah maka bentuk tes ini dpaat digolongkan ke dalam bentuk tes objektif.Dengan mengingat jawaban yang hanya satu pengertian saja. Maka angka bagi tiap nomor soal mudah ditebak. usaha yang dikeluarkan oleh siswa sedikit, tetapi lebih sulit daripada tes bentuk betul-salah atau pilihan ganda. Dalam tes bentuk ini, sebaiknya tiap soal diberi angka 2 (dua). Tetapi apabila jawabannya bervariasi misalnya lengkap sekali, lengkap, dan kurang lengkap, maka angkanya dapat dibuat bervariasi pula misalnya 2, 1,5, dan 1.
d)        Pemberian skor untuk tes bentuk menjodohkan ( maching test ), pada dasarnya tes bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda, dimana jawaban-jawaban dijadikan satu, demikian pula pertanyaan-pertanyaannya. Karena tes bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda yang lebih kompleks. Maka angka yang diberikan sebagai imbalan juga harus lebih banyak. Sebagai ancar-ancar dapat ditentukan bahwa angka untuk tiap nomor adalah 2 (dua).
e)        Pemberian skor untuk tes bentuk uraian, sebelum menyusun sebuah tes uraian sebaiknya kita tentukan terlebih dahulu pokok-pokok jawaban yang kita kehendaki. Dengan demikian, maka akan mempermudah kita dalam mengoreksi tes itu.Tidak ada jawaban yang pasti terhadap tes bentuk uraian ini. Jawaban yang kita peroleh akan sangat beraneka ragam, beda antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Langkah-langkah pemberian skornya adalah:
1)      membaca soal pertama dari seluruh siswa untuk memperoleh gambaran mengenai lengkap tidaknya jawaban yang diberikan siswa secara keseluruhan.
2)      Menentukan angka untuk soal pertama tersebut. Misalnya jika jawabannya lengkap diberi angka 5, kurang sedikit diberi angka 4, begitu seterusnya.
3)      Mengulangi langkah-langkah tersebut untuk soal tes kedua, ketiga, dan seterusnya.
4)      Menjumlahkan angka-angka yang diperoleh oleh masing-masing siswa untuk tes bentuk uraian.
Alternatif kedua untuk pemberian skor pada tes bentuk uraian adalah dengan menggunakan cara pemberian angka yang relatif. Misalnya untuk sesuatu nomor soal jawaban yang paling lengkap hanya mengandung 3 unsur, padahal yang kita kita menghendaki 5 unsur, maka kepada jawaban yang paling lengkap itulah kita berikan angka 5, sedangkan yang menjawab hanya 2 atau 1 unsur, kita beri angka lebih sedikit, yaitu misalnya 3,5; 2; 1,5; dan seterusnya.
Apa yang telah diterangkan adalah cara memberikan angka dengan menggunakan atau mendasarkan pada norma kelompok (norm referenced test). Apabila dalam memberikan angka menggunakan atau mendasarkan pada standar mutlak (Criterion referenced test), maka langkah-langkahnya adalah:
1)      Membaca setiap jawaban yang diberikan oleh siswa dan dibandingkan dengan kunci jawaban yang telah disusun.
2)      Membubuhkan skor di sebelah kiri setiap jawaban. Ini dilakukan per nomor soal.
3)      Menjumlahkan skor-skor yang telah dituliskan pada setiap soal.
Dengan cara ini maka skor yang diperoleh siswa tidak dibandingkan dnegan jawaban paling lengkap yang diberikan oleh siswa lain, tetapi dibandingkan dengan jawaban lengkap yang dikehendaki dan sudah ditentukan oleh guru.
f)          Pemberian skor untuk bentuk tugas, tolak ukur untuk keberhasilan tugas adalah sebagai berikut :
1)      Ketepatan waktu.
2)      Bentuk fisik pengerjaan tugas yang menandkan keseriusan dalam mengerjakan tugas.
3)      Sistematika yang menunjukkan alur keruntutan pikiran.
4)      Kelengkapan isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi.
5)      Mutu hasil tugas, yaitu kesesuaian hasil dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh guru.
Dalam mempertimbangkan nilai akhir perlu dipikirkan peranan masing-masing aspek kriteria tersebut, misalnya demikian :
  : Ketepatan waktu, diberi bobot 2
  : Bentuk fisik, diberi bobot 1
  : Sistematika, diberi bobot 3
  : Kelengkapan isi, diberi bobot 3
  : Mutu hasil, diberi bobot 3
Maka nilai akhir untuk tugas tersebut diberikan dengan rumus :
NAT=
     =
                             = 
                = 
                =  2,67

NAT : Nilai Akhir Tugas

2.      Perbedaan Skor dan Nilai
Apa yang terjadi selama ini, banyak di antara para guru yang masih mencampuradukkan antara dua pengertian, yaitu skor dan nilai.
Nilai adalah hasil pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap soal tes yang dijawab betul oleh siswa, dengan memperhitungkan bobot jawaban betulnya.
Skor adalah angka (bisa juga huruf) yang merupakan hasil ubahan dari skor  yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainnya, serta dengan menggunakan acuan/standar tertentu, yakni acuan patokan dan acuan norma.
a)        Penilaian Acuan Patokan ( PAP )
Suatu penilaian disebut PAP jika dalam melakukan penilaian itu mengacu pada suatu kriteria pencapaian tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Sebagai contoh, misalkan untuk dapat diterima sebagai calon penerbang di sebuah lembaga penerbangan, setiap calon harus memenuhi syarat antara lain tinggi badan sekurang-kurangnya 165 cm dan memiliki tingkat kecerdasan (IQ) serendah-rendahnya 130. Berdasarkan kriteria atau patokan itu, siapapun calon yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut dinyatakan gagal dalam tes atau tidak akan diterima sebagai calon penerbang.
b)        Penilaian Acuan Norma ( PAN )
Penilaian acuan norma adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok, nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang lain yang termasuk di dalam kelompok itu. Yang dimaksud dengan “ norma ” dalam hal ini adalah kapasitas atau prestasi kelompok, sedangkan yang dimaksud dengan “kelompok” adalah semua siswa yang mengikuti tes tersebut. Nilai hasil PAN tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjukkan kedudukan siswa di dalam peringkat kelompoknya.

E.     KEBAIKAN DAN KELEMAHAN MASING-MASING TES
Dalam alat-alat evaluasi pendidikan, pasti memiliki kebaikan atau kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Berikut kelebihan dan kelemahan masing-masing tes :
1.         Tes Esay
Kelebihan dari tes esay adalah sebagai berikut :
a)      Peserta didik dapat mengorganisasikan jawaban dengan pendapatnya sendiri.
b)      Murid tidak dapat menerka-nerka jawaban soal.
c)      Tes ini sangat cocok untuk mengukur dan mengevaluasi hasil suatu proses belajar yang kompleks yang sukar diukur dengan mempergunakan test objektif.
d)      Derajat ketepatan dan kebenaran murid dapat dilihat dari kalimat-kalimatnya.
e)      Jawaban diungkapakan dalam kata-kata dan kalimat sendiri, sehingga tes ini dapat digunakan untuk melatih penyusunan kalimat dengan bahasa yang baik, benar, dan cepat.
f)       Tes ini digunakan dapat melatih peserta didik untuk memilih fakta yang relevan dengan persoalan, dan Sukar dinilai secara tepat mengorganisasikannya sehingga dapat mengungkapkan satu hasil pemikiran yang terintegrasi secara utuh.

Sedangkan kelemahan dari tes ini yaitu :
a)      Sukar dinilai secara tepat.
b)      Bahan yang diukur terlalu sedikit, sehingga agak sulit untuk mengukur penguasaan siswa terhadap keseluruhan kurikulum.
c)      Sulit mendapatkan soal yang memiliki standar nasional maupun internasional.
d)      Membutuhkan waktu untuk memeriksa hasilnya.

2.         Tes objektif
Kelebihan tes objektif yaitu :
a)      Untuk menjawab tes objektif tidak banyak memakai waktu.
b)      Reabilitasnya lebih tinggi kalau di bandingkan dengan tes esay, karena penilainnya bersifat objektif.
c)      Pemberian nilai dan cara menilai test objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus dari pada si pemberi nilai.
d)      Tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan.
e)      Validitas tes objektif lebih tinggi dari tes esay, karena samplingnya lebih luas.

Sedangkan kelemahan tes objektif yaitu :
a)      Murid sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena mereka belum menguasai bahan pelajaran tersebut.
b)  Memang tes sampling yang diajukan kepada murid-murid cukup banyak, dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk menjawabnya.
c)      Tidak bisa mengajak murid untuk berpikir taraf tinggi.
d)      Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item tes harus sebanyak jumlah pengikut tes.

3.         Tes Benar-Salah ( True-False )
Kelebihan tes Benar-Salah diantaranya :
a)      Soal ini baik untuk hasil-hasil, dimana hanya ada dua alternatif jawaban.
b)      Tuntutan kurang ditekankan pada kemampuan baca.
c)      Sejumlah soal relatif dapat dijawab dalam tipe test secara berkala.
d)      Penilaian mudah, objektif, dan dapat dipercaya.

Kelemahan dari tes ini adalah :
a)      Sulit menuliskan soal diluar tingkat pengetahuan yang bebas dari maksud ganda.
b)      Jawaban soal tidak memberikan bukti bahwa siswa mengetahui dengan baik.
c)      Tidak ada informasi diagnostik dari jawaban yang salah.
d)      Memungkinkan dan mendorong siswa untuk menerka-nerka.
4.         Tes Pilihan Ganda ( Multiple Choice )
Kelebihan dari tes pilihan ganda yaitu :
a)      Hasil belajar yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur.
b)      Terstruktur dan petunjuknya jelas.
c)      Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik.
d)      Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban.
e)      Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.

Kelemahan dari tes pilihan ganda yaitu :
a)      Menyusunnya membutuhkan waktu yang lama.
b)      Sulit menemukan pengacau.
c) Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide.
d)      Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca.

5.         Tes Menjodohkan ( Maching Test )
Kelebihan dari tes menjodohkan yaitu :
a)    Suatu bentuk yang efisien diberikan dimana sekelompok respon sama menyesuaikan dengan rangkaian isi soal.
b)    Waktu membaca dan merespon relatif singkat.
c)      Mudah untuk dibuat.
d)      Penilaian mudah, objektif, dan dapat dipercaya.

Kelemahan dari tes menjodohkan yaitu :
a)   Materi soal dibatasi oleh faktor ingatan/ pengetahuan yang sederhana dan kurang dapat dipakai untuk mengukur penguasaan yang bersifat pengertian dan kemampuan membuat tafsiran.
b)      Sulit menyusun soal yang mengandung sejumlah respon yang homogen.
c)      Mudah terpengaruh dengan petunjuk yang tidak relevan.



6.         Tes Isian ( Fill In )
Kelebihan dari tes isian diantaranya :
a)      Sangat mudah dalam penyusunannya.
b)      Lebih menghemat tempat ( menghemat kertas ).
c)      Persyaratan komprehensif dapat dipenuhi oleh tes model ini.
d)      gunakan untuk mengukur berbagai taraf kompetensi dan tidak sekedar mengungkap taraf pengenalan atau hafalan saja.

Kelemahan dari tes ini diantaranya :
a)      Lebih cenderung mengungkap daya ingat atau aspek hafalan saja.
b)      Butir- butir item dari test model ini kurang relevan untuk diajukan.
c)      Tester kurang berhati-hati dalam menyusun kalimat dalam soal.

7.         Tes Jawaban Singkat ( Short Answer )
Kelebihan dari tes ini yaitu :
a)      Mdah dalam perbuatan.
b)      Kemungknan menebak jawaban sangat sulit.
c)      Cocok untuk soal- soal hitungan.
d)     Hasil- hasil pengetahuan dapat diukur secara luas.

Kelemahan dari tes ini yaitu :
a)      Sulit menyusun kata-kata yang jawabannya hanya satu.
b)      Tidak cocok untuk mengukur hasil- hasil belajar yang komplek.
c)      Penilaian menjemukan dan memerlukan waktu banyak.